Maka dari itulah yang sudah kaya takut kalah saingan dengan yang miskin
Siapa sih yang enggak mau jadi orang kaya Punya uang banyak, harta berlimpah, beli apa saja mudah. Kekayaan bisa didapat dengan banyak cara, salah satunya kerja keras. Paling enak, sudah terlahir kaya, jadi kamu tinggal menambah pundi-pundi uang tersebut.
Dewasa ini, kekayaan masih menjadi tolok ukur sebuah kesuksesan dalam hidup. Memiliki rumah, emas, mobil, tanah di mana-mana, perusahaan besar, dan kemewahan lainnya. Banyak orang mungkin akan berpikir ‘kok gampang banget ya jadi miliarder.’

Miskin itu menderita
Dalam kehidupan bermasyarakat dari dulu hingga sekarang, kemiskinan adalah sesuatu yang tak pernah luput dari realita sosial. Sudah bukan hal yang baru lagi jika kemiskinan menjadi salah satu permasalahan pelik yang selalu dihadapi oleh pemerintah. Berbagai upaya dan program pun dilakukan agar tingkat kemiskinan dalam suatu negara dapat berkurang, karena menjadi ukuran tingkat kesejahteraan masyarakat.
Pada prakteknya, memang ada beberapa kasus dimana orang yang miskin dapat merubah nasibnya hingga 180 derajat. Kita tentu pernah mendengar kisah sukses dimana mereka berasal dari keluarga miskin namun berhasil membalikkan keadaan dengan usaha dan kerja keras. Namun kasus itu hanyalah beberapa diantara sekian banyak lainnya, yang mana masih berada dalam lingkaran kemiskinan. Kenyataannya memang masih banyak mereka yang tetap berada dalam kemiskinan tanpa bisa merubah kehidupannya.
Mengapa hal itu dapat terjadi? Berikut adalah beberapa penyebab mengapa sebagian orang miskin tetap menjadi miskin dalam hidupnya:
1. Sumber Penghasilan Tidak Stabil
Penyebab pertama adalah sumber penghasilan yang tidak stabil dan jumlahnya minim, sehingga hanya cukup digunakan untuk beberapa waktu saja. Biasanya penghasilan ini digunakan untuk membiayai kebutuhan dari hari per-hari, serta memenuhi kebutuhan konsumtif mendasar seperti makan dan tempat tinggal. Tidak ada yang bisa ditabung dari penghasilan tersebut, karena sudah habis untuk keperluan sehari-hari.
Karena pola penghasilan yang biasanya didapat per-hari ini dan habis juga untuk keperluan hari itu, mereka kesulitan untuk mencari penghasilan bulanan. Kalau harus bekerja selama sebulan tanpa langsung diberi gaji setiap hari, mereka akan memikirkan bagaimana memberi makan keluarga sampai akhirnya mendapat gaji. Sedangkan mereka tidak memiliki tabungan atau uang cadangan yang bisa digunakan untuk keperluan darurat. Karena inilah maka pola penghasilan mereka sulit uintuk menjadi stabil dan terbebas dari jerat kemiskinan.
2. Keuangan Tidak Terencana
Penyebab ini masih berhubungan dengan yang pertama, dimana penghasilan yang tidak stabil membuat mereka kesulitan merencanakan keuangan. Mereka tidak membuat rencana keuangan jangka panjang, seperti dana pendidikan atau investasi. Bukan berarti tidak ingin, tapi memang keadaan yang membuat mereka kesulitan untuk merencanakan hal tersebut. Penghasilan yang dimiliki hanya cukup untuk hari ini, mana sempat merencanakan untuk hari esok?
Karena tidak adanya keuangan yang terencana itu, kehidupan mereka pun sulit untuk menjadi lebih baik. Tidak ada juga perencanaan menabung, apalagi menyisihkan penghasilan untuk tabungan dulu baru digunakan untuk kebutuhan lain. Jadi mereka tetap berada dalam siklus kehidupan yang sama tanpa adanya perencanaan untuk keuangan yang lebih baik lagi.
3. Tingkat Pendidikan Rendah
Penyebab selanjutnya yang membuat orang sulit keluar dari kemiskinan adalah tingkat pendidikan yang rendah. Mereka merasa bahwa uang yang dimiliki saat ini sudah sangat pas-pasan untuk makan sehari-hari, mana cukup digunakan untuk sekolah. Banyak juga yang beranggapan bahwa dibandingkan menyekolahkan anak hingga ke jenjang pendidikan yang tinggi, lebih baik anak mereka disuruh kerja. Dengan begitu, penghasilan keluarga mereka bisa bertambah dan kebutuhan lebih dapat terpenuhi.
Padahal tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam mengangkat taraf hidup seseorang agar menjadi lebih baik dan tentunya terbebas dari kemiskinan. Selain itu, sekarang sudah banyak lembaga baik pemerintah maupun swasta yang memberikan bantuan kepada mereka yang kurang mampu. Pendidikan adalah jendela bagi seseorang agar bisa melihat dunia lebih luas, bahkan menciptakan dunia yang lebih baik lagi.
4. Keterampilan Kurang Memadai
Kebanyakan orang yang berada dalam kemiskinan tidak memiliki keterampilan khusus, melainkan kemampuan yang banyak dimiliki juga oleh orang lain. Hal ini membuat mereka mudah digantikan oleh orang lain dalam pekerjaan yang mereka lakukan. Inilah salah satu hal yang menyebabkan mereka memiliki penghasilan yang tidak stabil, yang kemudian berpengaruh kepada hal lain seperti keuangan yang tak terencana dan pendidikan rendah.
Jika seseorang membekali dirinya dengan keterampilan selain hal mendasar yang bisa juga dilakukan semua orang, maka ia akan lebih dipertahankan dalam pekerjaan. Misalnya saja di jaman yang serba maju ini, setidaknya kita perlu memiliki keterampilan dalam menggunakan teknologi komputer dan internet. Keterampilan itu juga membuat gaji yang dibayarkan lebih tinggi dibanding hanya dengan mengandalkan kemampuan dasar, misalnya tenaga bersih-bersih.
5. Pasrah dengan Keadaan
Penyebab terakhir sekaligus paling fatal yang menyebabkan mengapa orang tetap berada dalam kemiskinan adalah pasrah dengan keadaan. Mereka merasa bahwa keadaan mereka adalah hal yang tidak bisa berubah, dan mereka akan terus berada dalam jerat kemiskinan apapun yang terjadi. Pikiran itu kemudian membuat mereka tidak memiliki keinginan untuk berusaha agar keadaan bisa menjadi lebih baik. Bahkan mereka mulai menyalahkan orang lain, seperti pemerintah atau orang-orang kaya di luar sana.
Kalau sudah begitu, maka tak heran kalau lingkaran kemiskinan itu sulit diputus dari kehidupan mereka. Memang tidak ada jaminan mereka akan berhasil keluar dari kemiskinan dengan berusaha. Tapi setidaknya dengan berusaha masih ada peluang untuk bisa sukses, sedangkan kalau tidak melakukan apapun maka kita tidak memiliki peluang sama sekali.
Demikianlah beberapa penyebab yang membuat banyak orang tetap berada dalam kemiskinan. Terkadang memang ada keadaan buruk yang terjadi diluar kehendak manusia, tapi kita selalu bisa mencoba untuk berusaha mencari jalan keluar. Semoga informasi ini bermanfaat dan semoga sukses!

KALAU kita ditanya “Mau jadi orang kaya atau miskin?” Tentu semua akan memilih jadi orang kaya. Pilihan ini wajar karena kekayaan identik dengan kebahagiaan, kecukupan dan ketenangan hidup, sementara tentu tidak ada seorangpun yang ingin hidupnya sengsara.
Akan tetapi permasalahan yang sebenarnya adalah dengan apa orang menjadi kaya sehingga dia bisa hidup tenang dan berkecukupan? Apakah dengan harta benda atau pangkat dan jabatan duniawi semata?
Jawabannya pasti: tidak. Karena kenyataan di lapangan membuktikan bahwa banyak orang yang memiliki harta berlimpah dan jabatan yang tinggi tapi hidupnya jauh dari kebahagiaan dan digerogoti berbagai macam penyakit kronis yang bersumber dari hati dan pikirannya yang tidak pernah tenang.
Kalau demikian, dengan apakah seorang manusia bisa meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati?
Temukan jawaban pertanyaan di atas dalam hadits berikut ini::
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya harta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan/kecukupan (dalam) jiwa (hati).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah jawaban dari hadits Rasulullah SAW yang merupakan wahyu Allah Pencipta alam semesta beserta isinya, termasuk jiwa dan raga manusia. Dialah Yang Maha Mengetahui tentang segala keadaan manusia, tidak terkecuali sebab yang bisa menjadikan mereka meraih kekayaan, kecukupan dan kebahagiaan hidup sejati.
Maha benar Allah ‘Azza wa Jalla yang berfirman:
أَلا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ
“Bukankah Allah yang menciptakan (alam semesta beserta isinya) maha mengetahui (segala sesuatu)? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui” (QS al-Mulk:14).
Hadits Rasulullah SAW di atas merupakan argumentasi kuat,ditambah bukti nyata di lapangan, yang menunjukkan bahwa kekayaan dan kecukupan dalam hati merupakan sebab kebahagiaan hidup manusia lahir dan batin, meskipun orang tersebut tidak memiliki harta yang berlimpah.
Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baik maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk maka akan buruk seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Benar, kekayaan yang sejati adalah iman kepada Allah SWT dan ridha terhadap segala ketentuan dan pemberian-Nya, ini akan melahirkan sifat qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezki yang diberikan Allah SWT.
Inilah sifat yang akan membawa keberuntungan besar bagi hamba di dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki yang secukupnya dan Allah menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Allah Ta’ala berikan kepadanya.” (HR. Muslim)
Apa yang dijelaskan dalam hadits ini tidaklah mengherankan, karena arti “kaya” yang sesungguhnya adalah merasa cukup dan puas dengan apa yang dimiliki, adapun orang yang tidak pernah puas dan selalu rakus mencari tambahan, meskipun hartanya berlimpah, maka sungguh inilah kemiskinan yang sejati, karena kebutuhannya tidak pernah tercukupi.
Imam Ibnu Baththal berkata: “Makna hadits di atas: Bukanlah kekayaan yang hakiki (dirasakan) dengan banyaknya harta, karena banyak orang yang Allah jadikan hartanya berlimpah tidak merasa cukup dengan pemberian Allah tersebut, sehingga dia selalu bekerja keras untuk menambah hartanya dan dia tidak perduli dari manapun harta tersebut berasal (dari cara yang halal atau haram). Maka (dengan ini) dia seperti orang yang sangat miskin karena (sifatnya) yang sangat rakus. Kekayaan yang hakiki adalah kekayaan (dalam) jiwa (hati), yaitu orang yang merasa cukup, qana’ah dan ridha dengan rezki yang Allah limpahkan kepadanya, sehingga dia tidak (terlalu) berambisi untuk menambah harta (karena dia telah merasa cukup) dan tidak ngotot mengejarnya, maka dia seperti orang kaya.”
Oleh karena itu, kemiskinan yang sebenarnya adalah sifat rakus dan ambisi yang berlebihan untuk menimbun harta serta tidak pernah merasa cukup dengan pemberian Allah Ta’ala.
Padahal kalau saja seorang manusia mau berpikir dengan jernih dan merenungkan, apakah kerakusan dan ketamakannya akan menjadikan rezki yang telah Allah ‘Azza wa Jalla tetapkan baginya bisa bertambah dan semakin luas? Tentu saja tidak, karena segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya tidak akan berubah, bertambah atau berkurang.
Bahkan lebih dari itu, justru kerakusan dan ambisi yang berlebihan mengejar perhiasan dunia, itulah yang akan menjadikannya semakin menderita dan sengsara. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya).” (HR Ibnu Majah)
Kesimpulannya, orang yang paling kaya adalah orang yang paling qana’ah (selalu merasa cukup dengan rezki yang diberikan Allah SWT) dan ridha dengan segala pembagian-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “…Ridhahlah (terimalah) pembagian yang Allah tetapkan bagimu maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan).” (HR. At-Tirmidzi). []
